
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, S.P.
Sebelumnya, ramai di Media Sosial (Medsos), khususnya
Instagram ramai diperbincangkan terkait dengan beban biaya produksi petani di
Kendal terutama bagi petani yang mengandalkan pompa air untuk mengairi
sawah.
Situasi tersebut diakibatkan oleh debit air mengalami penurunan, sedangkan
pasokan air dari jaringan irigasi tidak mampu menjangkau sejumlah lahan
pertanian.
Melihat kondisi tersebut, bahkan terdapat petani yang
membutuhkan Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 20 liter per hari untuk memenuhi
kebutuhan sawah.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati menyatakan bahwa 20 liter per hari yang digunakan oleh petani bukan hanya mengairi satu sawah.
Menurutnya, jumlah tersebut biasanya digunakan sekali
pengairan secara beramai-ramai atas nama kelompok.
Perlu diketahui, tanaman pada bukan merupakan jenis tanaman
air. Melainkan, jenis tanaman yang membutuhkan air. Artinya kebutuhan air itu
sekedar mencukupi pengairan sehingga tidak harus sampai tergenang.
"Jadi 20 liter per hari itu, tidak untuk satu kepemilikan sawah. Namun, digunakan secara beramai-ramai atas nama kelompok untuk mengaliri beberapa petak sawah," ujarnya melalui telepon pada Rabu 26 Agustus 2026 malam.
Perlu diketahui, tanaman pada bukan merupakan jenis tanaman air. Melainkan,
jenis tanaman yang membutuhkan air. Artinya kebutuhan air itu sekedar mencukupi
pengairan sehingga tidak harus sampai tergenang.
Selain itu, tanaman padi tidak membutuhkan penyiraman setiap hari. Meski
begitu, kondisi tanah juga perlu diperhatikan.
Pandu menerangkan bahwa apabila kondisi tanah masih terjaga kelembabannya
sehingga tidak perlu disiram air atau air tidak perlu sampai menggenang.
"Apabila kondisi tanah masih terjaga kelembabannya, sehingga tidak perlu
disirami air sampai menggenang. Kemudian, saat umur tanaman 10-30 hari,
interval penyiraman umumnya dilakukan selama 3 sampai 5 hari,"
terangnya.
Selanjutnya, ketika memasuki umur 30 hingga 80 hari pasca tanam, pengairan
dapat dilakukan menggunakan selang. Lalu, air dibiarkan di permukaan sampai
dengan turun atau hilang.
Kualitas hasil rendemen padi berpengaruh terhadap harga gabah dan harga panen.
Harga gabah di musim jauh lebih murah apabila dibandingkan dengan musim
kemarau. Hal tersebut dikarenakan hasil panen musim hujan mempunyai kadar air
yang tinggi. Sedangkan, saat musim penghujan kadar air menjadi berkurang
sehingga membuat harga gabah naik.